Senin, 30 Mei 2016

MEMULAI KEMBALI SETELAH 3 BULAN DORMANSI

sudah hampir 5 bulan tidak melakukan corat coret, Alhamdulillah, bisa berkesempatan bercuap-cuap kembali. 

PUNCAK BUCU
"jika terlalu lama tidak bergerak, maka akar kaki akan semakin dalam menghujam ke tanah dan lama kelamaan akan semakin berat untuk sekedar berpindah tempat".

Hampir genap tiga bulan sepeda menggantung tanpa roda. Awalnya habis di loading untuk gowesan menjelajah perbukitan dan tanjakan di sepanjang jalan dari @Desaponjong – Wonosari PP
, sesampai dirumah belum sempat dirakit kembali. Tidak terasa waktu 3 bulan membuat debu2 menempel semakin tebal di rangka xtrada 5. Hari Ahad pagi, 29 Mei 2016 yang lalu, selepas sholat subuh timbul niatan untuk memulai mengayuh dan mengajak si xtrada melibas tanjakan, jalan terjal dan turunan tajam.
Roda-Roda

Dimulai memompa ban sepeda yang mulai kehilangan isinya, dilanjutkan menurunkan rangka dari tiang gantungan. Jam 6 sepeda selesai dirangkai, dilanjutkan mempersiapkan bekal dan perlengkapan.
#GowesAhadPagi ini bersama kakak sepupu @SigitHarun yang sering menjadi partner gowes dalam menaklukkan tanjakan, naik turun bukit serta bersama-sama nuntun saat beratnya medan sudah tidak bisa berdamai dengan stamina J. Jalur yang kami lewati kemaren berupa jalur menengah dengan tingkat tanjakan sedang. Jalur yang kami lewati baturetno – Segoroyoso – Wonolelo (Pleret) - Persimpangan Cegokan - Kaligatuk – pertigaan Ngelosari - Puncak Bucu – Banyakan – Jambidan -  perempatan RS RC dan kembali menuju rumah dengan melawati jalur dalam kampong.
Persimpangan Cegokan
Dari arah baturetno – Segoroyoso – Wonolelo (Pleret) jalur relative datar. Dari Wonolelo – Kaligatuk terdapat taburan bonus-bonus berupa tanjakan ringan. perjalanan dari wonolelo menuju Kaligatuk, kami menyempatkan beristirahat sejenak di persimpangan Cegokan, di gardu pos ronda di samping pertigaan (Persimpangan Cegokan merupakan persimpangan antara jalur Cino mati, Piyungan dan kearah Pleret).
Kondisi jalan dari Kaligatuk menuju Puncak Bucu terdapat beberapa titik tanjakan sedang dengan kondisi jalan aspal yang sebagian sisinya mulai mengelupas menyisakan lubang menganga. Sampai di pertigaan ngelosari, ambil arah kiri, jalan cor blok. dari Ngelosari
Pertigaan Ngelosari

papan Petunjuk menuju Puncak Bucu (1)

papan Petunjuk menuju Puncak Bucu (2)

Disini mulai Nuntun


:-)

50 Meter lagi

Menatap Asa


menuju puncak bucu kita disuguhi lagi tanjakan dan turunan yang cukup menantang dengan variasi jalan berbatu, cor blok yang sebagian sudah mengelupas, terkikis dan retak-retak  beberapa bagiannya sisinya. Sampai di pertigaan yang terdapat papan petunjuk puncak Bucu, kami mengambil jalan menurun dengan susunan batu besar-besar dan dijamin jalannya lebih licin lagi saat habis tersiram air hujan. Saran saya, saat menuruni jalan ini, jika ingin nyaman jangan meletakkan pantat di sadel sepeda :-).



Terjalnya tanjakan


360

"Ada kalanya sepeda minta kita gendong, jika medan mengharuskan itu kita lakukan"
Untuk naik ke puncak Bucu dari pertigaan jalan sebenarnya ada dua jalur. Jalur pertama yang menuruni jalan berbatu, alternative kedua melewati jalan setapak menuju lahan ladang warga. Jalan memang lebih sempit, tapi sepeda tetap bisa kita gowes sampai batas terluar ladang warga yang berdekatan dengan Puncak Bucu. Jika ambil jalur yang pertama, seperti yang saya lewati, saat menaiki batu besar menuju puncak Bucu, sepeda harus kita tuntun, bahkan sesekali kita gendong ;).
Saatnya memanjakan diri.
teh Puanas Kentel & Gorengan
Alhirnya, saya berhasil menapakkan kaki di puncak Bucu lagi untuk kedua kalinya. pertama kesini, 6 bulan yang lalu belum ada kios, bahkan tulisan "PUNCAK BUCU"belum ada, "baru tahap pembuatan"katanya.  
Di puncak bucu kita bisa beristirahat sejenak melepas lelah sambil menikmati panas dan kentalnya seduhan teh dan Gorengan yang dijajakan di sana. Saat kami ke puncak bucu kemaren ada dua kios. yang satu kios buka mulai malam sabtu - hari minggu, sedangkan kios yang satunya, hampir bisa dipastikan buka setiap hari. dipuncak bucu pun kita bisa memesan masakan mie rebus dan aneka cemilan yang ada. 

Perjalanan pulang dari puncak bucu, kami mengambil jalan yang membelah lahan pertanian warga dan tembus disamping bangunan pendopo. Dilanjutkan kearah banyakan dengan medan jalan cor beton dengan turunan cukup curam dan tikungan tajam. Dalam menuruni bukit, kondisi rem sepeda harus dipastikan dalam kondisi prima dan posisi berat badan harus condong kearah belakang, supaya tekanan roda bagian depan tidak terlalu berat. Atau lebih mudahnya, posisi sadel bisa kita turunkan, suapaya goweser bisa duduk lebih nyaman dan mengurangi tekanan di roda depan. Alhamdulillah, menuruni tanjakan banyakan bisa dilalui dengan lancar dengan diiringi alunan suara  dencitan yang dihasilkan dari gesekan kampas rem dengan piringan cakram. Dan perjalanan gowes 2,5 jam ini bisa selamat sampai rumah.   
Perjalanan gowes yang dapat dibilang lumayan, sebagai permulaan kembali setelah 3 bulan dormansi, absen dari atas sadel sepeda. 
Kamu telah mengantarku kesini #lagi

Tidak ada komentar: