Senin, 30 Juni 2014

Mengenal Pak AR Lebih Dekat



Pagi ini saya membaca Kisah inspiratif dari seorang Tokoh Besar yang sederhana dan bersahaja dalam hidupnya. Perjalanan hidup mantan Ketua Umum Organisasi masa terbesar di Dunia dan saat ini sudah memiliki ratusan Ribu Amal Usaha dalam  bidang pendidikan, kesehatan maupun ekonomi.
Beliau adalah Bapak K.H. Abdul Rozak Fachruddin, yang lebih kita kenal dengan panggilan Pak AR.
Berikut petikan Kisah pak AR yang saya ambil dari sumber bacaannya disini.
   (Ditulis oleh Padmawisastra, pensiunan pegawai Jawatan Purbakala Prambanan
Dimuat dalam Surat Kabar Minggu Pagi No. 36 tahun 1968).
 
  • Meneruskan cita-cita KHA Dahlan: “Mengkiyaikan kaum intelek dan mengintelekkan kaum Kiyai”.
  • “Muhammadiyah tidak mempunyai musuh, Muhammadiyah untuk semua manusia”
  • Sabar-aktif, senyum ikhlas, evolusi, tidak senang force
  • Paling dikenal dengan panggilan Pak AR, humornya selalu membuat marem pendengarnya.
  • Pernah dilempari batu, berpuluh kali difitnah, menjulang karena autodidaknya.
 
SORE HARI saya datang ke rumah beliau (di kampung Kauman Yogyakarta, peny.). Baru ancang-ancang untuk “menyelundupkan” pertanyaan-perta-nyaan, mendadak tamu datang.
Kami berjabat tangan. Tamu duduk. Pak AR menanyakan namanya, pekerjaaan, sekolah atau alamatnya. Keperluannya. “Kalau Pak AR tak berhalangan”, kata tamu, “kami mengharapkan Pak AR bisa memberikan pengajian di fakultas kami”.
Kemudian ditanyakan hari, jamnya, tanggalnya. Lalu, dengan tersenyum Pak AR berkata: “Wah, minggu ini saya ke Banjarmasin, jadi ….
Jadi Pak AR tidak bisa memberikan pengajian di fakultas itu. Si tamu kecewa. Dan, karena Pak AR tahu hal itu, maka Pak AR menjanjikan dalam kesempatan lain akan memenuhinya.
Tamu kemudian pergi.
Dan saya membetulkan duduk, agar lebih relax. Tapi begitu saya mulai bicara, begitu pula terdengar: “Assalamu’alaikum”.
Tamu lain masuk pula: dari FKSS. Fakultas Keguruan Seni dan Sastra. Tujuannya sama dengan tamu terdahulu. Dan hasilnya juga sama: kecewa karena Pak AR harus pergi ke Banjarmasin.
Menjelang Maghrib tamu pergi. Idem ditto, saya yang segera pergi ke Masjid  Besar Kauman.
Ketika saya kembali, di dalam sudah ada dua orang tamu. Segera pula saya ketahui maksudnya: seperti kedua tamu yang terdahulu. Dan saya segera bisa mengambil keputusan: tentu kecewa juga.
Benar. Ketika Pak AR keluar pintu tengah, menemui dan bicara dengan kedua tamu, persis sudah dugaan saya…. Kecewa.
Agak lama kedua tamu itu omong-omong dan bicara soal keagamaan dalam hubungannya dengan masyarakat. Kemudian tamupun pergi.
Setengah jam kira-kira saya punya kesempatan bicara, ketika tamu yang keempat datang dan dengan maksud yang sama pula dengan hasil yang sama pula; kecewa karena Pak AR tidak bisa memberikan cera-mah atau pengajiannya.
Begitulah sibuknya Pak AR, orang yang kita tokohkan kali ini. Sibuk menerima tamu, undangan-undangan untuk ceramah, rapat. Sibuk pergi ke Surabaya, Semarang, Purwokerto, Yogya, Sala. Sibuk ke kampung Kadipaten, Suronatan, Ngasem, Bausasran, dan lain-lain. Sibuk memberikan kuliah di fakultas anu, memberikan ceramah dalam malam penutupan atau pembukaan gedung, madrasah, musholla. Memberikan pengajian di depan 20 atau 25 orang. Di depan ratusan atau ribuan mu’tamirin-mu’tamirat. Atau dalam kuliah subuh di Masjid Besar Kauman atau Masjid Syuhada’.
Sibuk bertabligh. Sibuk mengurus Muham-madiyah. Sibuk self-upgrading.
Maka, kalau kita ingin mengetahui siapa Pak AR, paling bijaksana ialah kalau kita menanyakan kepada orang-orang yang sering bertemu dengan Pak AR. Atau orang yang kerap mendengarkan ceramah atau pengajiannya. Atau orang-orang dekat beliau.
Alus sanget” kata Pak Djumadi, Kepala TU MP kita ini, yang sekaligus jadi anggota DPR-DGR DIY dan aktif dalam lingkungan PP Muhammadiyah.
Pak AR pernah mendapat fitnah yang –apabila dihadapi oleh orang yang tak teguh agama dan imannya—akan menjadikan bentrokan atau perse-lisihan tajam. Tapi Pak AR menanggapinya secara “damai”, kata Pak Djumadi. Maksudnya, fitnah itu tidak begitu dipedulikan oleh Pak AR. Sebab Pak AR percaya seratus persen sampai ke tulang sungsumnya, bahwa Allah Maha Kuasa. Allah Maha Melihat dan Mengetahui. Dan … tentu menolong hamba-Nya!
Keyakinan seperti itu bagi Pak AR sudah mendalam. Mendarah daging. Menulangsungsum. Sejak kecil dulu. Juga ketika di Palembang. Ketika beliau memberikan pengajian dan mendapat tantangan keras dari oknum-oknum yang tidak senang Agama Allah meresap ke dalam hati penduduk.
Kejadiannya seperti di jaman Nabi Muhammad saja. Pak AR memberikan pengajian, dan orang-orang yang tidak senang itu melancarkan ketidak-se-nangannya dengan jalan …. melempari batu.
Kelakuan jahiliah seperti itu, seperti di jaman Nabi Muhammad, dihadapi pula dengan hati sabar dan tawakkal, seperti yang dilakukan Nabi Besar itu. Dan memang hidup Pak AR dan Muhammadiyah yang dipimpinnya untuk meniru tindak-tanduk Nabi Muhammad!
Tapi, sabar dan tawakkal bagi Pak AR bukan sabar dan tawakkal yang pasif. Yang nrimo apa adanya. Tidak!
Buktinya, orang yang melempar Pak AR itu, malahan kemudian disapa dan … didatangi rumahnya!
Didatangi bukan untuk ganti diberikan pukulan. Tapi didatangi dengan senyuman dan wajah yang segar, jernih, tulus. Maka bisa dimengerti, kalau orang yang telah melempar itu kaget, sedih karena perbuatan buruknya, dan –di hari-hari mendatang—selalu mengikuti pengajian yang diadakan Pak AR!
“Memang Pak AR tidak senang force”, kata Muchlas Abror, wartawan harian Mercu Suar edisi Jawa Tengah – Yogyakarta. Pak AR selalu menginginkan cara evolusioner, bukan revolusioner. Tahap demi tahap. Melangkah pelan tapi mantap mendalam.
“Dan caranya tepat”, kata wartawan-kiyai itu selanjutnya, “sebab Pak AR mengajak para pendengar atau murid-muridnya secara ramah-tamah. Seperti kasih ayah kepada anaknya. Dan selalu …. humor!
“Terus terang, yang membuat saya senang sekali dengan Pak AR ialah humor-humornya yang sehat” kata seorang mahasiswa psikologi Gadjah Mada, sesaat sebelum kuliah subuh Pak AR dimulai. Ditambahkan: “Dan justru melalui humor-humornya itu, dengan tak terasa isi yang ingin disampaikan Pak AR masuk ke dalam kesadaran para pendengarnya dan kemudian mengendap di dalamnya. Tak terasa pula, hal itulah yang menjadikan seseorang rindu kepada ceramah-ceramah, kuliah-kuliah atau pengajian-pengajian Pak AR….”
Dan memang: ciri khas dari Pak AR adalah humor-humornya dalam ceramah atau pengajiannya. Humor yang bisa diterima oleh rakyat kecil atau yang tidak makan sekolah. Yang bisa membuat ketawa seorang MA maupun lulusan Al-Azhar Mesir. Yang menjadikan tersenyum seorang Kyai yang juga sering memberikan kuliah-kuliah atau pengajian.
Sebab, demikianlah yang saya tangkap. Pak AR selalu memikirkan kepada siapa beliau bicara. Dus, humor-humornya juga harus “disesuaikan”. Buktinya: orang merasa marem dan lega ketika mendengarkan wejangan beliau. Dalam suatu peresmian berdirinya sebuah musholla kecil di kampung. Atau di depan beribu-ribu para muktamirin-muktamirat Muham-madiyah. Bahkan sekali-dua dalam ….. khutbah Jum’atnya!
Dan sangat mungkin, disebabkan itu pula, yang menjadikan warga Muhammadiyah Banjarmasin “mem-fait a compli” beliau: ini tiket kapal terbang untuk ke Banjarmasin, Pak AR. Ini untuk kereta api ke Surabaya. Ini …… ini …….
Sedang “tugas khusus” Pak AR yang diminta warga Muhammadiyah itu: berikan wejangan di sana. Berilah pengajian warga Muhammadiyah Banjar-masin. Dan jangan lupa…. humornya!
Juga sangat mungkin, humor dan ketulusan hati Pak AR itulah yang menjadikan beliau mendapat suara terbanyak dalam pemilihan Ketua PP Muhammadiyah dalam Muktamar 1968, lebih dari suara untuk K.H. Faqih Usman. Lebih dari Prof. Dr. Hamka. Lebih dari suara Prof. Dr. H. Rosyidi.
Meski begitu, toh orang bertanya-tanya juga: kenapa yang jadi Ketua Muhammadiyah kemudian bukan Pak AR, tapi K.H. Faqih Usman?
“Pak Faqih kan lebih tua, lebih banyak penga-lamannya” kata Pak AR, “jadi kurang bijaksanalah kalau saya yang jadi Ketuanya, walau suara terbanyak….”
Jelas: menunjukkan kerendahan hatinya. Jelas: Pak AR tidak ambisius untuk menjadi Ketua. Jelas: Pak AR mengabdi kepada Islam dan Muhammadiyah dengan hatinya yang tulus ikhlas…
Dengan hatinya yang tulus ikhlas, sebab begitulah ajaran-ajaran yang beliau terima dari guru-guru dan Ketua-ketua PP Muhammadiyah yang terdahulu, sejak pendirinya KHA. Dahlan, KH. Ibrahim, H. Hisyam, K.H. Mas Mansoer, Ki Bagus Hadikusumo, A.R. St. Mansur, dan lain-lainnya.
Barulah ketika kemudian harinya dengan menda-dak K.H. Faqih Usman meninggal, dan karena itu jabatan Ketua PP Muhammadiyah kosong, maka Pak AR tidak keberatan jadi Ketuanya, apalagi setelah melalui musyawarah para anggota PP Muham-madiyah.
Jadi Ketua Muhammadiyah, sudah pasti tidak enteng. Cita-cita KHA Dahlan yang menghendaki diintelekkannya para kiyai dan dikyaikannya kaum intelek, bukanlah pekerjaan yang mudah. Meski begitu, jauh sebelum Pak AR jadi Ketua PP Muhammadiyah, cita-cita Pak Dahlan itu sudah melecutnya. Setidak-tidaknya untuk diri beliau.
Waktu itu beliau berada di Semarang. Karena keinginan beliau untuk lebih banyak menimba ilmu maka beliau bermaksud memasuki universitas di sana. Tapi maksud itu ternyata ditolak, sebab “justru Pak AR-lah yang seharusnya memberi kuliah di sini”, demikian alasan penolakan itu.
Maksud semula jadi mahasiswa, alih-alih beliau sendirilah yang harus memberi kuliah. Maka, “terpaksalah” riwayat hidup beliau untuk tahun-tahun 60-an harus ditulis: dosen di Universitas Diponegoro Semarang, Universitas Sultan Agung, IKIP, dan lain-lain.
Tapi, boleh dikata, Pak AR menjulang karena autodidaknya. Sebab beliau hanya mendapat didikan di Darul Ulum di Sewugalur Yogya dan Tabligh School Muhammadiyah. Lalu mengajar di SD Muhammadiyah dan Wustho Mu’allimin Palembang. Guru Darul Ulum di Sewugalur, Pegawai pada Kantor Penerangan Agama, Kabupaten Adikarto dan Sentolo dan dari sini kemudian ke Kantor Urusan Agama (KUA) DIY.
Dari KUA Yogya, kemudian pindah jadi Kepala Kapena Jateng di Semarang dan sejak 1 Juli 1967 jadi Kepala Kapena DIY.
Pak AR jadi anggota PP Muhammadiyah mulai tahun 1959, kemudian terpilih sebagai Wakil Ketua III dalam Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 1962-1965, dilanjutkan lagi pada periode 1965-1968 dan pada Muktamar Muhammadiyah yang ke-37 (1968), seperti dikatakan di muka, Pak AR akhirnya meme-gang pucuk pimpinannya.
Hampir sepuluh tahun sejak jadi Anggota Pimpinan sampai kemudian jadi Ketuanya, tentulah sudah memberikan pengalaman dan pelajaran yang banyak kepada beliau. Kesulitan-kesulitannya, halangan-halangan dan kesukaran-kesukarannya. Tapi justru halangan-halangan atau rintangan-rintangan itulah yang akan memajukan, demikian dikatakan dalam salah satu buku beliau.
“Kalau Pemerintah mau menghargai jasa KH Ahmad Dahlan, bantu saja Muhammadiyah, tak usah dirintang-rintangi” kata Pak AR dalam bukunya: “Menuju Muhammadiyah”.
Sebab, demikian kata Pak AR, “Muhammadiyah adalah untuk semua orang. Semuanya. Bukan hanya untuk orang yang punya gambar bulan bintang. Bukan hanya untuk orang yang bersarung. Tapi juga untuk orang yang punya gambar banteng. Untuk orang bercelana dan berdasi dan berkopiah”.
Untuk semuanya. Semua manusia. Semua orang. Sebab Perjuangan Muhammadiyah tak lain ialah menyebarluaskan Islam, agama Allah yang haq dan yang diridhai-Nya!
Untuk semua orang dan golongan. Sebab, sebagaimana dituntunkan Al-Qur’an dan Nabi Besar Muhammad saw. Islam adalah rahmat bagi manusia. Al-Qur’an dan Sunnah sebagai pedoman umatnya, adalah untuk menuntun manusia mencapai apa yang diingininya, yaitu kehidupan yang baik, lahir maupun batin, di dunia maupun di akhirat.
Dan itu sudah disadari betul oleh Haji Abdul Razak Fachruddin, tokoh yang secara singkat kita apa-siapakan kali ini.
Karena disadari oleh Ketua dan anggota-anggotanya, maka Muhammadiyah tidak hendak menjadikan dirinya partai politik. Tidak hendak menjadikan persyarikatannya itu suatu arena “adu mulut” seperti yang kerap dituduhkan bagi organisasi atau orang-orang politik.
Melainkan: amal, amal, amal. Amal kebajikan untuk manusia. Amal kebajikan untuk orang-orang sakit, anak-anak yatim, orang-orang buta atau tuli atau cacat, orang miskin, orang kaya yang tidak bahagia, untuk semua orang.
Dan Pak AR telah bertekad. Telah mempunyai kesadaran yang mbalungsungsum terhadap itu semua!

Tidak ada komentar: