Rabu, 21 November 2012

ANTARA AKU DAN SEPEDA-SEPEDAKU


Saya termasuk anak manusia yang bersinggungan dengan sepeda sejak kecil. Saya teringat dulu semasih sekolah dasar di SD Muhammadiyah Kuwon, saya diberi “lungsuran” sepeda kecil dari kakak sepupu dengan roda mungil. Saya dengan antusias dan semangat 45 setiap pagi berangkat sekolah menggunakan si mungil, dalam jarak tempuh 2 km.



Saat saya di bangku SMP pun menggunakan moda trasnportasi andalan sepeda angin untuk berangkat ke sekolah. Hal itu berlanjut saat saya menempuh pendidikan SMA. Dari rumah menuju tempat “ngetem” bis di komplek Pasar Legi, saya menggunakan sepeda. Sampai di pasar dilanjut naik angkutan umum menuju kota Wonosari. Perjalanan bersepeda saya terdapat sedikit sisi suram, saya pernah sekali menghilangkan, atau bahasa halusnya kehilangan  sepeda di tempat penitipan sepeda di komplek pasar Legi, yang menurut pendatap saya karena ada orang yang yang mengambil sepeda yang ukan haknya lebih membutuhkan “sepeda pinjaman dari pakdhe” itu.
Memasuki bangku kuliah saya mulai tidak bersinggungan dengan sepeda. Lebih banyak menggunakan transportasi publik, alias “NGE-BIS” untuk perjalanan dari rumah menuju Jogja maupun dari komplek kos-kosan menuju kantor organisasi yang saya aktif didalmnya saat itu. Saya menikmati perjalanan menggunakan KOPATA, menikmati teriakan kondektur untuk mencari penumpang maupun raungan kendaraan tua dengan asap mengepul di jalanan untuk menyusuri jalanan aspal nengantarkan saya ke tujuan.
Nah, saya mulai menjalin hubungan lebih mesra lagi dengan si sepeda setidaknya satu tahun terakhir ini. Dari adanya sepeda hibah dari kakak ke-5 @Jauhari. Tanggal 11 Februari 2012 Sepeda Seli alias Sepeda Lipat saya bawa  dari JOGJA menuju Manokwari demi memuaskan hasrat untuk gowes lagi, bersamaan dengan ikutnya Istri tercinta saya @NurArina_H untuk tinggal sementara di Manokwari. Lumayan, dengan adanya si seli, saya bisa nggowes untuk olahraga dan cari keringat. Setiap pagi atau sore selepas pulang kantor. Saat saya berangkat ke kantor, jatah istri untuk memanfaatkan si Seli. Secara praktis si Seli kita gunakan secara bergantian, demi untuk pembakaran kalori.
Selang dua bulan kemudian saya memiliki sedikit rezeki, sehingga bisa membeli sepeda baru. Dengan kedatangan Xtrada-5 dalam keluarga kami, maka saya dan Istri bisa bersepedaan bersama menyusuri jalanan kota Manokwari. Pokoknya mesra. Hehehe….
Sudahkan anda Gowes hari ini?

Tidak ada komentar: