Jumat, 19 Februari 2010

Satu bulan Mendampingi Istri tercinta #1





Alhmadulillahirobbil ‘alaimin….. saya masih dikaruniai dan bisa merasakan nikmatnya kebersamaan dalam kekeluargaan. Yach… dalam keluarga besar bani Anas “contoh kecilnya”
Hari ini, 3 Februari 2010, tepat pukul 07.00 WIT saya menapakkan kaki kembali di tanah Papua, tepatnya di Manokwari, tempat saya berkarya “untuk sementara waktu” saat ini. Saya meninggalkan manokwari satu tahun yang lalu (27 Desember 2009), untuk sementara waktu “selama satu bulan” saya memutuskan harus stay in Jogja untuk menemani istri setelah mengalami  keguguran dalam usia kandungan memasuki bulan ke 3. Penderitaan dan cobaan bagi perempuan yang mengalami keguguran bukan hanya derita sakit fisik saat melahirkan janin yang tumbuh didalam rahim nya, namun yang terlebih lagi, perempuan memerlukan pendampingan dan penguatan psikis, mendorng mentalnya kembali untuk tetap menjadi wanita yang utuh dan akan menjadi Ibu bagi anak anak yang dititipkan melalui rahimnya suatu saat nanti……, saat Allah sudah berkehendak memberikan rezeki kembali.
  Saya sangat bersyukur saat itu, minggu terakhir bulan desember 2009 merupakan  hari-hari yang berat dan penuh kekhawatiran. Saya berada di pulau seberang dengan segala keterbatasan akses dan sarana, sedangkan Istri tercinta di tanah kelahian baru berjuang untuk mempertahankan amanah-Nya yang dititipkan kepada kami. Biarpun dari upaya yang kami lakukan belum ada jaminan akan berhasil menyelamatkan amanah itu. Dengan penuh kekhawatiran dan keraguan akan kemampuanku untuk bisa pulang ke Jogja menemani Istri dan mendampingi hari-hari perjuangannya. Tidak lain dan tidak bukan kendala terbesar yang saya hadapi adalah masalah financial.  Keyakinanku akan Kekuatan do’a yang selalu ku panjatkan “Semoga engkau mudahkan pertemuan kali ya Allah…” dalam setiap munajatku kepada-Nya memberikan semangat yang luar biasa besarnya. Dan Allah pun memberikan jalan dari arah yang terkdang tidak kita duga.
Alhamdulilah, tgl 26 Malam ada kapal yang berlayar menuju Jawa dengan route paling pendek Merapat di Manokwari . Manokwari – Sorong – Makassar – Surabaya. Pelayaran empat hari 4 malam ku jalani.  Perjalanan panjang pun kujalani, terapung ditengah samudra untuk menjemput impian…., eh, untuk menuju JOGJA.
Kapal merapat di pelabuhan Tanjung Perak tepat tanggal 30 siang. Sesampainya di Jogja, saya tidak bisa menemui istri di rumah, karena Istri sudah masuk Rumah Sakit. Turun dari Bus saya langsung meluncur menuju PKU Muhammadiyah tuk mendampingi Istri pasca operasi ringan setelah keguguran….  


4 komentar:

ayaheauzi mengatakan...

Tegar, dan tetap semangat Bro.
Inna ma'a al'usri yusra.

Anonim mengatakan...

Yah, foto ndut umi ko dipajang....kan malu....

Anonim mengatakan...

Ya, mungkin karena itu

Anonim mengatakan...

Dzieki za ciekawe informacje