Jumat, 19 Februari 2010

Satu bulan Mendampingi Istri tercinta #2




Waktu Satu bulan terasa sangat singkat untuk mendampingi Istri tercinta. Pasca kejadian akhir tahun 2009, yang pasti membuat istriku harus lebih sedikit protect, dan yang pasti saya herus mengambil peran untuk membantu meringankan beban Istri (itu mah sudah menjadi kewajiban suami…..! Wajib wal kudu’). Selama satu bulan hari hari yang kujalani difokuskan untuk mendampingi dan memberikan service terbaik untuk Istri. Yang tadinya berangkat – pulang kampus dilalui sendiri, selama satu bulan saya menjadi tukang ojek setia. Antar jemput pulang pergi. Itu sudah menjadi komitmen dan yang pasti kewajibanku. Selama masa pemulihan ini saya harus selalu berada di samping istri. Dan masa kebersamaan itu terasa sangat singkat dan mengharuskan saya “untuk sementara waktu” meninggalkan keluarga tercinta untuk mengais rezeki dan di Pulau Seberang. Memang pilihan berat harus menjalani LDL kembali. Namun pilihan ini harus kita ambil saat ini sebelum masa kebersamaan dapat kita jalani. Ibaratnya Bersusah susah dahulu, dan harapan masa depan yang lebih cerah dapat kita gapai. (Manusai tidak dianjurkan untuk menyerah dan berputus asa, namun harus memiliki kemauan dan kemampuan untuk mencoba. Mencoba melakukan gebrakan perubahan menuju lebih baik. Dan salah satu upaya itu baru kami usahakan. Semoga diberi kemudahan jalan…. Amin….)
Tangal 2 merupakan hari terakhir dari satu bulan saya stay in Jogja sekaligus hari ke 720 umur pernikahan kami. Dalam ulang tahun ke dua masa pernikahan ini, kami sudah mengalami berbagai macam lika-liku perjalanan kehidupan dalam membina rumah tangga. Dan dari setiap lembaran kehidupan yang kami goreskan memberikan arti, makna dan manfaat untuk pembelajaran proses kehidupan kami kedepan. Dari lembaran lembaran yang kami goreskan dengan tinta kehidupan, ada goresan kebahagiaan dan terkadang terdapat goresan kesedihan. Kedua sisi goresan itu todak dapat kita pisahkan satu dengan yang lain, bahkan keberadaannya saling melengkapi, sehingga bisa digunakan sebagai media pembelajaran secara utuh.
Tanggal 2 sore hari saya harus segera take off melakukan perjalanan panjang Jogja – Mkw dengan dua kali transit, di Jakarta dan Makassar. Untuk melepas kembali keberangkatan saya yang memakan waktu penerbangan hampir 12 jam, Istri, keluarga besar Bani Anas besera kedua Orang tua saya saat ini (mertua saya Pak’e dan  Bu’e) mengantar saya ke Bandara. Kakak kakak yang bisa berkesempatan mengantar kemaren kakak ke-3 dan kakak ke-5 dari 6 bersaudara. Dengan dihibur kelucuan dua ponakan, waktu satu jam penantian penerbangan terasa sangat singkat. Pukul 17.25 Panggilan terakhir penumpang untuk naik ke pesawat, saya baru menuju ruang tunggu dan masauk pesawat paling akhir (daripada lama menunggu lebih baik ditunggu hehehe….). saya berpamitan dengan keluarga tercinta untuk menjemput secercah rezeki di Pulau seberang.
Setibanya di  Cengkareng, adek seperjuangan sudah menantikan kedatanganku. Waktu transit hampir 4 jam tidak terasa lama dengan kami isi dengan diskusi diskusi seputar kehudupan dan aktifit dalam organisasi yang pernah sama sama kita geluti dengan ditemani dua piring nasi, tempe goreng, pepes teri dan satu mangkuk sayur asem. --Harga memang Mahal, karena di bandara. Namun sebelum “pergi sejenak” dari kampung Halaman dengan dilepas Sayur Asem, mengingatkan aku alan masakan Wanita Perkasa saat kami dirumah selama satu bulan (jika dibandingkan, masakan yang saya santap malam itu masih jauh dari Rasa yang diracik Istriqu)--. Menjadi sahabat dan saudara dekat sejak kunjunganku ke Bengkulu 2 tahun yang lalu, saat ada kegiatan pengkaderan di Bumi Raflesia. Kesamaan pandangan dan semangat dalam perjuangan di Organisasi, menjadi salah satu faktor saya dan Sarkawi bisa menjadi semakin dekat untuk selalu bisa sharing dang diskusi. Hal ini semakin memantapkan pemikiranku, bahwa BERSAUDARA ITU INDAH….

Terimakasih keluarga besarku…
LIFE FOR OTHER’s



Satu bulan Mendampingi Istri tercinta #1





Alhmadulillahirobbil ‘alaimin….. saya masih dikaruniai dan bisa merasakan nikmatnya kebersamaan dalam kekeluargaan. Yach… dalam keluarga besar bani Anas “contoh kecilnya”
Hari ini, 3 Februari 2010, tepat pukul 07.00 WIT saya menapakkan kaki kembali di tanah Papua, tepatnya di Manokwari, tempat saya berkarya “untuk sementara waktu” saat ini. Saya meninggalkan manokwari satu tahun yang lalu (27 Desember 2009), untuk sementara waktu “selama satu bulan” saya memutuskan harus stay in Jogja untuk menemani istri setelah mengalami  keguguran dalam usia kandungan memasuki bulan ke 3. Penderitaan dan cobaan bagi perempuan yang mengalami keguguran bukan hanya derita sakit fisik saat melahirkan janin yang tumbuh didalam rahim nya, namun yang terlebih lagi, perempuan memerlukan pendampingan dan penguatan psikis, mendorng mentalnya kembali untuk tetap menjadi wanita yang utuh dan akan menjadi Ibu bagi anak anak yang dititipkan melalui rahimnya suatu saat nanti……, saat Allah sudah berkehendak memberikan rezeki kembali.
  Saya sangat bersyukur saat itu, minggu terakhir bulan desember 2009 merupakan  hari-hari yang berat dan penuh kekhawatiran. Saya berada di pulau seberang dengan segala keterbatasan akses dan sarana, sedangkan Istri tercinta di tanah kelahian baru berjuang untuk mempertahankan amanah-Nya yang dititipkan kepada kami. Biarpun dari upaya yang kami lakukan belum ada jaminan akan berhasil menyelamatkan amanah itu. Dengan penuh kekhawatiran dan keraguan akan kemampuanku untuk bisa pulang ke Jogja menemani Istri dan mendampingi hari-hari perjuangannya. Tidak lain dan tidak bukan kendala terbesar yang saya hadapi adalah masalah financial.  Keyakinanku akan Kekuatan do’a yang selalu ku panjatkan “Semoga engkau mudahkan pertemuan kali ya Allah…” dalam setiap munajatku kepada-Nya memberikan semangat yang luar biasa besarnya. Dan Allah pun memberikan jalan dari arah yang terkdang tidak kita duga.
Alhamdulilah, tgl 26 Malam ada kapal yang berlayar menuju Jawa dengan route paling pendek Merapat di Manokwari . Manokwari – Sorong – Makassar – Surabaya. Pelayaran empat hari 4 malam ku jalani.  Perjalanan panjang pun kujalani, terapung ditengah samudra untuk menjemput impian…., eh, untuk menuju JOGJA.
Kapal merapat di pelabuhan Tanjung Perak tepat tanggal 30 siang. Sesampainya di Jogja, saya tidak bisa menemui istri di rumah, karena Istri sudah masuk Rumah Sakit. Turun dari Bus saya langsung meluncur menuju PKU Muhammadiyah tuk mendampingi Istri pasca operasi ringan setelah keguguran….