Rabu, 19 Agustus 2009

LONG DISTANCE LOVE



Cinta antara JOGJA – Manokwari - JOGJA

Cinta.....

Demi cinta ada oang yang rela mati....

Karena cinta ada yang berani melakukan apapun untuk membela, melindungi orang yang dicintainya...

Kadang Cinta tidak bisa (red. Tidak Mudah) untuk di nalar, bahkan terkadang tidak masuk akal dan logika.

Dengan CINTA, permusuhan menjadi Persahabatan

Kebencian menjadi saling menyayangi

Membaca bukunya mbak Fatimah “Imazahra” Azzahra “Imazahra” (senior saya saat masih aktif di organisasi kemasyarakatan, meskipun belum pernah bertemu muka) seakan membaca saya saat ini.

Saya terlahir sebagai anak terakhir dari enam bersaudara dalam keluarga bukan perantau yang menjalani kehidupan di desa nan asri. Selepas menempuh pendidikan formal, deterima kerja dengan penempatan di luar daerah. Bahkan di pulau seberang yang belum pernah sama sekali terbayangkan saya untuk menjamahnya. Saat awal mendengarkan pengumuman penerimaan, sempat ada perasaan bimbang dan ragu untuk mengambilnya. Berkat dukungan dan suport dari kakak kakakku, dengan tekad bulat aku memberanikan diri untuk menjalaninya.

Sebagai singgle parent, ibu saya, Ibunda Sarilah (Alm) awalnya merasa berat untuk melepaskanku. Apa lagi beberapa bulan sebelumnya saya sempat mengikuti seleksi tes masuk salah satu BUMN, namun sampai batas waktu keputusan terakhir, kejelasan seleksi penerimaan di BUN masih belum ada kepastian. Berkat dukungan dan penguatan dari keluarga besar, akhirnya Ibunda mengikhlaskan keputusanku untuk mencoba merantau di pulau seberang.

Awal Permulaan LDL

Memang berat hidup jauh dari keluarga tercinta yang selama ini selalu bersama dalam suka maupun duka. Dan kini suka, duka serta rekam aktifitas hanya bisa diceritakan lewat jaringan seluler maupun pesan singkat pendek, tanpa bisa disaksikan secara langsung. Yang kuterima hanya berupa copy-an rekam aktifitas keluarga yang ada nun jauh disana, tanpa bisa menjadi saksi sejarah secara “Live”. Sebelum berangkat ke pulau seberang, saya juga memantapkan niat untuk memberanikan diri mempersunting wanita pujaanqu, dengan modal keyakinan bahwa ini keputusan yang tepat. “Bismillahirrohmannirrohim. Qobiltu nikhaqaha watajzwijaha linafsi...” tanggal 2 Februari 2008 ijab qobul berlangsung dengan lancar du Mushola Nurul Huda, Tumpang, Sawangan magelang. Secara syah aku menjadi suami Nur Arina Hidayati, dan beralih tanggungjawab dari mertua saya menjadi tanggung jawab saya untuk memenuhi kebutuhan serta membimbingnya. Dua setengah bulan menikmati kebersamaan, dengan berat langkah, saya harus segera meninggalkan keluarga besar dan istri tercinta untuk menjalankan amanah menuju medan tempur di pulau seberang. Merintis hidup di pulau seberang yang masih asing dan tanpa sanak saudara diterantauan memang berat. Bahkan sangat sangat dan suangat buerat. Harga kontrakan rumah yang diluar nalar dan perkiraan, harga makan satu porsi di pulau seberang yang bisa digunakan untuk makan satu hari bersama istri saat di kampung halaman dan berbagai macam hal baru lainnya. Alhamdulillah...., dalam medan juang saya tidak sendiri, setidaknya ada teman teman senasib sepenanggungan. Di sini kami saling berbagi, saling menguatkan dan saling memberi motifasi. Pada awal-awal masa di pulau seberang, home sick sangat terasa. Apa lagi saat menghubungi keluarga di kampung halaman, kerinduan itu semakin menguat dan sangat kuat.... . teringat pesan kakak pertama, biar tidak kangen rumah, jangan terlalu sering menghubungi rumah. Apa iya bisa....? L

Mudik Pertama

Menjalani hidup di pulau seberang sudah kujalani kurang lebih 4 bulan. Pagi hari saat di kantor dapat info dari seorang sahabat yang sama sama bekerja di instansi serupa di pulau berbeda, bahwa akan ada diklat wajib bagi karyawan baru yang akan dilaksanakan dalam waktu depat. Kami bersama teman-teman satu instansi mencoba menghubungi pihak panitia untuk bisa mengikuti diklat tersebut. Dan oleh pihak panitia dikasih lampu hijau. Tanggal 22 Agustus 2008 saya Berangkat diklat sekaligus kesempatan pulang kampung pertama kalinya sampai lebaran isul Fitri.

Serasa menemukan kembali dunia yang pernah hilang...... sebentar lagi akan terobati rasa rindu ini, Allah akan segera mempertemukan ku dengan keluarga besar dan Istriqu tercinta (yang dengan kesabarannya selalu menunggu kedatangannku).

Berpisah dengan keluarga ke 2 kalinya, Berangkat lagi Ke Pulau Seberang

Termasuk waktu pulang kampung ku termasuk yang paling lama dibandingkan dengan teman-teman satu angkatan yang lain. Karena sekalian ada 2 diklat sekaligus yang wajib saya ikuti, sehingga lebih dari tiga bulan saya meninggalkan pulau seberang. Beberapa hari sebelum saya berangkat, kondisi Bunda sebenarnya kurang sehat. Keluhan yang dirasakan sekitar lambung. Kami memperkitakan hanya sebatas sakit perut biasa yang sering dirasakan orang kebanyakan. Bunda termasuk tipe orang yang kurang bisa begitu terbuka untuk menceritakan rasa sakit yang dirasakannya. Dah karena hal tersebut, penanganan medis kadang tidak tepat dan merimplikasi kepada kondisi penyakit yang semakin parah. Dalam kondisi sakit, Ibunda mencoba untuk tetap tegar dan kuat. Meskipun sambil menahan rasa sakit, ibunda tetap bersikukuh untuk mengantarkan saya ke bandara. Dan pertemuan di bandara dengan Ibunda tercinta merupakan kesempatan terakhir aku menyaksikan Ibu sangat terlihat tegar dan kuat. Karena Seminggu setelah saya berada di pulau seberang lagi, ibunda harus menjalani rawat Inap di Rumah sakit. Terasa berat rasa ini, saat Ibunda terbaring di Rumah Sakit, diri ini tidak bisa mendampinginya, hanya sebatas do’a yang terpanjatkan untuk kebaikan Ibunda....*

Salah satu hikmah yang bisa saya petik dengan keberanianku mengambil keputusan untuk sementara waktu berpisah dengan Istri, Istri tercinta bisa menggantikan saya untuk selalu mendampingi bunda di rumah sakit. Bahkan, saat lebaran Idul Adha, Ibunda merayakannya di Rumah sakit bersama Istriqu. Saya bersyukur.... Allah memberikanqu karunia yang sangat besar. Seorang Istri yang sangat menyangi Ibunda dengan sepenuh hati. Hampir satu bulan Bunda rawat Inap di Rumah Sakit. Melihat kondisi bunda semakin membaik dan atas izin dari dokter, bunda diizinkan rawat jalan*

Saya di sini selalu berusaha memantau perkembangan kesehatan Bunda. Berbulan bulan saya dalam kondisi cemas dan tidak tenang. Kadang muncul ketakutan sudah tidak bisa bertemu dengan Bunda lagi. Apa lagi awal bulan Maret, kondisi kesehatan Bunda sempat menurun dan harus menjalani rawat inap kembali. Bahkan 8 hari menjalani perawatan intensif di rang ICU. Mulai saat itu perasaan ini selalu gelisah. Ingin pulang segera tapi kondisi cidera finansial sangat tidak mengizinkan saya untuk segera pulang. Dalam kondis kegalauan, hanya do’a yang mampu kupanjatkan dan kupinta kepada Nya “semoga saya diberikan kemudahan jalan untuk bisa dipertemukan lagi dengan keluarga dan Ibunda diberikan ketetapan yang terbaik oleh Nya” Dengan penuh keyakinan pasti Allah akan memberikan kemudahan jalan bagi hamba-hambaNya. Meskipun Rezeki itu tidak diberikan langsung oleh Allah kepadaku, namun, rezeki Allah diberikan untukku.*

Pulang kampung lagi untuk meng ikhlaskan kepergian Bunda

Sehingga tanggal 1 April 2009 saya bisa terbang kembali ke kampung halaman untuk mendampingi Ibunda. Memanjatkan do’a dan berbuat yang terbaik untuknya. Saat perjalanan purang, diliputi rasa khawatir, ketakutan bahwa Allah sudah tidak mengizinkan lagi aku bertemu dengan Ibunda. Apalagi pesawat sempat delay beberapa jam di bandara transit. Pada hari yang sama pula, kakak ke-tiga –yang sedang menuntut ilmu di Brishbane, pulang juga ke kampung halaman. Sedangkan kakakke empat yang sedang meniti karir di Palembang sudah tiba si kampung halaman satu hari lebih awal dariku. di Alhamdulillah, Allah masih mengizinkan saya bersama ke lima kakak saya dan keluarga besar Anas untuk mendampingi bunda selama 13 hari, sebelum Allah menjemputnya.*

Perempuan tangguh itu akhirnya dikehendaki oleh Allah untuk segera menhadap NYA dalam usia ke 63. (sama seperti masa Rasululoh saat dipanggil oleh-NYA). Kami, anak-anaknya sudah melakukan usaha sekuat ternaga dan secara optimal menguayakan kesembuhan Bunda, tapi Allah menentukan jalan yang lain. Dan Do’a kami, semoga Ibunda Tercinta meninggal dalam keadaan Khusnul Khotimah. Kami sebagai generasi penerus Keluarga besar Anas, anak anaknya memiliki kewajiban untuk meneruskan cita cita mulia Ayahanda Anas Ngabid dan Ibunda Sarilah. Cita cita yang sederhana namun memberikan manfaat besar bagi sesama. “Berkarya yang terbaik, melakukan upaya tanpa pamrih serta Selalu berbagi dengan sesama dimanapun dan kapanpun kita berada”.

Saya teringat betapa basar jiwa sosial Bunda. Saat ada acara sosial, Bunda merasa sangat tidak nyaman jika tidak terlibat didalamnya. Membezuk orang sakit, mengahdiri undangan, mendatangi acara kerjabaktiBahkan, saat sakit sekalipun, Bunda tetap berupaya bisa berkontribusi. Itulah gambaran kesederhanaan dan ketangguhan Alharhum Bunda.

LIKA LIKU PERJALANAN LDL

Menjalani Long Distance Love, hubungan cinta jarak jauh bukanlah perkara yang mudah. Kita harus bisa menata hati, menata diri, mengatur ritme komunikasi, sehingga komunikasi yang dilakukan dengan pasangan tidak terasa hambar tanpa makna. Yang paling berat saat muncul masalah karena adanya kesenjangan komunikasi atau saat sinyal seluler tidak bersahabat. Tidak jarang, inginnya membangun kemesraan, justru yang terjadi kondisi yang memanas. Namun satu kunci yang selalu coba ku pegang. Berusaha memahami pasangan dan berajar ber empati apa yang sedang dialami oleh pasangan di belahan bumi lain.

Menjalani LDL, mengingatkan kita untuk selalu bisa mensyukuri nikmatnya serpihan serpihan waktu dalam kebersamaan. Saat-saat pertemuan merukapan moment yang selalu mendebarkan dan selalu dinantikan saat harus mulai berpisah –sementara waktu- kembali. Meskipun sampai saat ini masih menjadi pelaku LDL, suatu saat nanti kami ingin membangun keluarga yang utuh, keluarga dalam kebersamaan menghadapi cobaan dalam suka maupun duka. Dan Prinsip Kami, selalu berusaha melakukan upaya yang terbaik dan bisa bermanfaat bagi sesama dimana kami masing masing berada saat ini.

“pasti akan Ada hikmah yang dapat kita petik dari setiap Peristiwa”

1 komentar:

ayaheauzi-wa-naufal mengatakan...

Tetap Semangat.
LDL memang berat, tapi cinta tak akan lapuk hanya karena beda ruang, tempat, dan waktu.

Be strong on your LDL, you will find greater on the spot love, promptly.