Senin, 31 Agustus 2009

Hikmah Ramadhan (2): IKHLAS

Dikisahkan, perjalanan menuntut ilmu dua orang Pemuda kepada seorang guru kebiksanaan sudah dianggap cukup oleh gurunya. Banyak ilmu yang telah diberikan sang guru kepada kedua murid nya. Ilmu agama, ilmu kearifan hidup maupun kemandirian dan kini sudah saatnya kedua murid mengamalkan ilmu yang diberikan sang guru dan menebar kebaikan untuk sesama. Sebelum kedua murid pergi meninggalkan padepokan, guru berpesan satu nasihat sebagai bekal kehidupan sang murid “ Wahai Murid murid kesayanganku, saat kau melakukan segala sesuatu, lakukanlah secara Ikhlas dan hanya berharap balasan dari Allah SWT. Jangan berharap dari selainNYA”

Kedua murid pun bertebaran dimuka bumi dan memulai merintis usaha untuk menunjang kehidupan menebar kebajikannya. Satu murid memulia usaha menjadi seorang pedagang dan yang satunya menjadi petani. Dalam selang waktu beberapa tahun. Usaha perdagangan si murid pertama berkembang pesat dan menjadi toko yang maju, begitupun usaha pertanian murid kedua sudah banyak membuahkan hasil. Dan dari usaha pertaniannya, bisa memberikan manfaat kepada semua orang yang ada disekitarnya.

Setelah beberapa tahun meninggalkan sang guru, muncul rasa rindu untuk mengunjungi guru dan ingin tahu kondisi terakhir nya. Datanglah si petani mengunjungi guru dengan membawa satu karung hasil pertaniannya. Diterima dengan hangat oleh guru dan istrinya sesaat sampai dirumah. Mereka berbincang untuk melepas kerinduan. Dirasa sudah cukup kunjugannya, si murid berpamitan. Dan kebetulan si murid atang, sang guru baru saja mendapatkan kambing dari seseorang, karena yang dimiliki hanya seekor kambing untuk oleh-2, maka diberikanlah kambing itu kepada si murid petani.

Dalam Perjalanan pulang, bertemulah murid petani dengan murid pedagang. Si Pedagang memulai pembicaraan “ Dari mana saja kau saudaraku, di jalanyang terik ini menarik kambing?”. “saya baru saja silaturahmi ke tempat guru dengan mengantarkan hasil panen musim ini, dan saat pulang saya dibawain kambingini ” ujar murid petani. Timbul pikiran dalam hati pedagang “jika saya bawa sembako ke tempat guru, pasti saya akan diberi sesuatu yang lebih dari kambing....”.

Sore harinya, datanglah si murid pedagang ke rumah gurunya dengan membawa sembako lengkap untuk diberikan kepada guru. Setelah berbincang lama dan dirasa sudah cukup silaturahminya, si murid berpamitan. Karena yang ada dimiliki oleh guru hanya sekarung hasil pertanian pemberian murid petani, maka hasil pertanian yang ada dirumah, seluruhnya dibawakan kepada murid pedagang sebagai oleh oleh. Akhirnya murid pedagang berpamitan dengan perasaan jengkel, karena yang dia peroleh tidak sesuai dengan apa yang dia harapkan.


Bagaimana Berbuat dengan Ikhlas?

Menurut Qurais Sihab, Belajar Ikhlas ibaratnya mengajarkan anak untuk tidak bermain api. Anak harus dikasih pengertian terlebih dahulu tentang bahayanya api dan apa saja resikonya. Anak terlebih dahulu Tahu serta dikasih kesadaran. Berusaha untuk berbuat tanpa terkontaminasi kepentingan duniawi. Iklas bebarti melakukan sesuatu “hanya” untuk Allah dan hanya kepada Allah, tanpa ada sesuatu tujuan dan keinginan yang lain.( Mengharap pujian, mengharap imbalan, mengharapkan sesuatu bukan dari Allah semata....) Ikhlas itu sulit, menurut ulama, karena berusaha untuk membersihkan hati dari niatan niatan samping selain untuk Allah. Namun, jika kita mencoba membersihkan hati, kita bisa melatih diri untuk berbuat Ikhlas.... Insya’Allah

Semoga Allah Selalu membimbing kita untuk menjaga hati ini.

“Jika kita berbuat sesuatu dengan niatan ikhlas dan hanya untuk mencari Rdho Allah, maka Allah akan memberikan rizki pengganti dari arah yang tidak kita perkirakan, namun jika tidak ikhlas, maka yang aka kita peroleh hanya kekecewaan”

Rabu, 26 Agustus 2009

Hikmah Ramadhan (1): Ramadhan "BENAR-BENAR" Bulan Berkah.....



"Ramadhan Muabrrok.... Ramadhan selalu penuh berkah"


Tidak terasa sudah memasuki hari ke 5 dalam Ramadhan Tahun ini. Hingga saat ini, saya sudah banyak memperoleh dan mendengarkan berita gembira dari istri, sahabat, rekan, tetangga serta saudara yang berada jauh di seberang pulau sana. Ada sahabat saya yang diberikan Allah amanah anak laki laki yang lucu saat memasuki bulan Ramadhan -semoga menjadi Anak yang Soleh ya Dek Pendi and dek Rif'ah- ada yang memperoleh takjil berbuka dari tetangga sebelah, ada yang memperoleh rezeki tambahan dari pintu yang sama sekali tidak terduga serta berkah-berkah lain (pasti akan penuh halaman ini jika saya ceritakan semua :-D)

Dan berkah yang paling aku syukuri hingga hari ke 5 ini, saat istriqu memperoleh SMS dari pihak panitia seleksi penerimaan tenaga pegajar di UAD. Berkah itu tidak akan kami peroleh tanpa adanya suport semangat dan Do'a dari keluarga besar saya, kakak-kakak, adek-adek, pakdhe, budhe, paklek, bulek, si Mbah Putri dan yang paling utama berkat kegigihan do'a dari Pa'e Anshori dan Bu'e Nurjanah dalam setiap sepertiga malamnya. Saat memperoleh berita gembira, secara spontan bu'e langsung sujud syukur ditengah tengah kesibukannya mempersiapkan menu berbuka di dapur. Berita diterimanya istrisaya sebagai tenaga pengajar di UAD, bagi saya itu merupakan berita bahagia dan kado terindah di awal Ramadhan tahun ini utuk kedua mertua ku, kedua orangtuaku saat ini, karena sejak awal -saat Istriqu masih menjadi dosen penyerta- yang memiliki harapan besar untuk bisa menjadi tenaga pengajar di UAD adalah kedua Mertuaku. dan saya yakin itu adalah berkah Ramadhan yang diberikan Allah kepada kami sekeluarga (berkanlah kekuatan bagi kami untuk menegmban Amanahmu ya Allah...).

Tahapan Tes yang Penuh Tantangan dan Ujian Kejujuran Diri
Perjalanan tes seleksi lumayan panjang. Ada 4 tahap yang harus dilalui. Untuk persyarat administrasi, setidaknya dan diutamakan pelamar memiliki nilai tes Toefl yang tinggi, namun istriqu baru bisa mencapai nilai dibawah standard. Sempat ada godaan (seperti yang dialami teman-2 pelamar lain), ditawari tes Toefl khusus dengan hasil yang "fantastik". namun hati kecil kami melarang untuk menempuh cara itu. Kami lebih bangga menggunakan hasil murni daripada menggunakan hasil fantstik namun manipulasi. Dan Bismillah, saya dan istri "Nekat" memasukkan berkas lamaran dengan nilai tes Toefl dibawah standard yang merupakan hasil tes Jujur dan Murni :-). Saya berprinsip jika memeng rejeki, Allah akan memberikan jalan kemudahan.

Kurang dari satu minggu setelah memasukkan berkas administratif, keluar pengumuman tahap pertama, dan Alhamdulillah Istriku keluar namanya. Tes tahap ke dua dan ketiga dapat dilalui dengan lancar, meskipun harus mengorbankan waktu untuk menghadiri pernikahan adek di Kebumen. Sedih memang kehilangan moment kebersamaan bersama keluarga, namun pengorbanan itu tidak sia-sia.

Tahap ke-empat merupakan Seleksi wawancara dan merupakan tahap penentuan. Ini merupakan tahap terberat dari proses seleksi yang dilalui Istriqu. pertanyaan tentang Komitmen yang cukup menghantui istriqu. perang batin, perang kepentingan, antara ingin segera menyusulku ke pulau seberang, dan permasalahan lain. Bahkan hal itu membuat komunikasi kami sedikit renggang. Namun itu menjadi pembelajaran bagi kami, bahwa setiap keputusan mengandung konsekwensi dan alhamdulillah komunikasi kita bisa cair kembali.


Harapan Kedepan
Setidaknya, selama setahun menjalani proses menyelesaikan kuliah S2 nya, istriqu memiliki aktifitas yang bermanfaat dan bisa mendermakan ilmunya yang sudah diperoleh. Dan modal pengalaman yang diperoleh saat dijogja, bisa menjadi modal untuk berkarya saat menyusulku ke Pulau Seberang kelak....


"Semoga Berkah Ramadhan yang lain selalu menyertai aktifitas kita. Aminn..."



Jumat, 21 Agustus 2009

MARHABAN YAA RAMADHAN


Wahai Orang-orang yang beriman, diwajibkan ats kamu berpuasa sebagaimana orang-orang sebelum kamu juga diwajibkan, agar kamu berbakti [Al Baqarah, (2): 128]

Alhamdulilah, Allah telah mengabulkan do’aku, “Ya Allah, pertemukanlah aku dengan ramadhan ramadhanm yang akan datang joka Kau memprkenankan” Dan nanti sore, beberapa saat sebelum waktu maghrib tiba, kita telah memasuki bulan Ramadhan 1430 H (bulan Qomariyah, perhitungan masuk tanggal baru beberapa saat sebelum memasuki waktu maghrib –saat matahari tenggelam-).
Kita sebagai umat Islam, sangat disayangkan jika tidak bisa mengoptimalkan moment bulan yang penuh berkah, maghfiroh dan dan ampunan ini dengan amalan amalan yang positif dan penuh makna. Setiap amalan ibadah kita, yang ditujukan semata-mata untuk NYA dijanjikan akan dilipat gandakan pahalanya 70 kali lipat. Jika kita hitung secara matematis dan menggunakan ilmu ekonomi, sangat rugi bahkan merugi bagi orang orang yang tidak dapat memanfaatkan moment istimewa ini. Maka banyak umat yang berbondong bondong kemasjid. Masjid mulai rame dengan aktifitas umat, dari sholat tarawih, kultum, tadarus dengan target merampungkan 30 jus, sholat subuh berjama’ah, buka bersama dan di 10 hari terakhir sebagian umat menyempatkan waktunya untuk beriktikaf. Saat Ramadhan Semakin Meriah.

Godaan Dan Kekuatan Iman
Fenomena yang sering muncul di masyarakat bersama dengan aparat keamanan, saat menjelang bulan Ramadhan dan selama bulan Ramadhan banyak dilakukan aksi sweaping dan pensegelan tempat tempat yang “dianggap” sebagai tempat pengganggu ibadah. Cafe, Diskotik, Bar, Prostitusi, pantai Pijat dan tempat tempat yang memperoleh anggapan minor dari sebagian masyarakat. Secara, pelarangan keberadaan termpat tempat terlarang seperti itu seharusnya dilakukan sepanjang waktu, setiap saat. Namun yang terjadi, justru fenomena yang sangat menggelikan, Pelarangan tempat tempat minor tersebut hanya diberlakukan saat bulan ramadhan saja, sedangkan selepas bulan ramadhan, seakan akan mereka legal untuk buka praktek kembali dan menjadi suatu hal yang Halal untuk dinikmati masyarakat lagi. Masyarakat inginnya saat puasa godaan godaan yang ada didepan mata dihilangkan, bahkan disingkirkan sejauh jauhnya supaya pausanya kuat. Padahal sejatinya menjalankan puasa ibaratnya menjalani suatu ujian. Semakin berat tantangan dan cobaan, makan semakin tinggi tingkatan kualitas lulusan yang dihasilkan. Tidak akan optimal hasil yang akan kita peroleh jika menjalani ujian namun yang dipilih soal soal mudah.

Keberhasilan Ramadhan
Istilah yang sering digunakan oleh umat Islam, orang yang berhsil puasanya jika memperoleh lailatul Qodar, yang konon katanya akan turun pada malam malam ganjil di 10 hari terakhir. Maka akan ada sebagian umat yang berlomba lomba mengejar berkah lailatul Qodah di 10 hari terakhir tersebut, utamanya pada malam malam ganjil. Terlepas dari kontroversi yang ada (lailatul qodar memang ada setiap tahun atau hanya sekali saja pada masa Rasulullah), inti keberhasilan Ramadhan umat jika selepas ramadhan, aktifitas dan amaliahnya tidak kendor, bahkan akan lebih utama lebih ditingkatkan lagi selepas bulan ramadhan pergi. Kalo saya boleh mencoba menganalisisa, seseorang tidak akan memeperoleh berkah malam lailatul qodar (jika memang ada) begitu saja, dengan sholat khusuk dan bertafakur pada 10 hari terakhir, namun itu suatu kesatuan proses dari awal bulan ramadhan sampai Bulan Ramadhan berlalu.
Dan yang jadi Catatan utama saya, jika memang kita ingin menjadi umat unggul dari madrasah Ramadhan, harus menjadi orang yang tahan banting dalam segala kondisi. Jangan merusak amal ibadah Ramadhan kita dengan melakukan tindakan anarkis (temporal), melakukan perusakan tempat tempat yang dianggap minor yang ada di lingkungan kita. karena secara harfiah puasa itu menahan diri dari sesuatu (Ash-shaum atau ash-shiyaam)


Semoga Ramadhan kita kali Ini Semakin Bermakna.
Kumaafkan Khilafmu, Kupinta keikhlasan untuk memaafkanku

Rabu, 19 Agustus 2009

LONG DISTANCE LOVE



Cinta antara JOGJA – Manokwari - JOGJA

Cinta.....

Demi cinta ada oang yang rela mati....

Karena cinta ada yang berani melakukan apapun untuk membela, melindungi orang yang dicintainya...

Kadang Cinta tidak bisa (red. Tidak Mudah) untuk di nalar, bahkan terkadang tidak masuk akal dan logika.

Dengan CINTA, permusuhan menjadi Persahabatan

Kebencian menjadi saling menyayangi

Membaca bukunya mbak Fatimah “Imazahra” Azzahra “Imazahra” (senior saya saat masih aktif di organisasi kemasyarakatan, meskipun belum pernah bertemu muka) seakan membaca saya saat ini.

Saya terlahir sebagai anak terakhir dari enam bersaudara dalam keluarga bukan perantau yang menjalani kehidupan di desa nan asri. Selepas menempuh pendidikan formal, deterima kerja dengan penempatan di luar daerah. Bahkan di pulau seberang yang belum pernah sama sekali terbayangkan saya untuk menjamahnya. Saat awal mendengarkan pengumuman penerimaan, sempat ada perasaan bimbang dan ragu untuk mengambilnya. Berkat dukungan dan suport dari kakak kakakku, dengan tekad bulat aku memberanikan diri untuk menjalaninya.

Sebagai singgle parent, ibu saya, Ibunda Sarilah (Alm) awalnya merasa berat untuk melepaskanku. Apa lagi beberapa bulan sebelumnya saya sempat mengikuti seleksi tes masuk salah satu BUMN, namun sampai batas waktu keputusan terakhir, kejelasan seleksi penerimaan di BUN masih belum ada kepastian. Berkat dukungan dan penguatan dari keluarga besar, akhirnya Ibunda mengikhlaskan keputusanku untuk mencoba merantau di pulau seberang.

Awal Permulaan LDL

Memang berat hidup jauh dari keluarga tercinta yang selama ini selalu bersama dalam suka maupun duka. Dan kini suka, duka serta rekam aktifitas hanya bisa diceritakan lewat jaringan seluler maupun pesan singkat pendek, tanpa bisa disaksikan secara langsung. Yang kuterima hanya berupa copy-an rekam aktifitas keluarga yang ada nun jauh disana, tanpa bisa menjadi saksi sejarah secara “Live”. Sebelum berangkat ke pulau seberang, saya juga memantapkan niat untuk memberanikan diri mempersunting wanita pujaanqu, dengan modal keyakinan bahwa ini keputusan yang tepat. “Bismillahirrohmannirrohim. Qobiltu nikhaqaha watajzwijaha linafsi...” tanggal 2 Februari 2008 ijab qobul berlangsung dengan lancar du Mushola Nurul Huda, Tumpang, Sawangan magelang. Secara syah aku menjadi suami Nur Arina Hidayati, dan beralih tanggungjawab dari mertua saya menjadi tanggung jawab saya untuk memenuhi kebutuhan serta membimbingnya. Dua setengah bulan menikmati kebersamaan, dengan berat langkah, saya harus segera meninggalkan keluarga besar dan istri tercinta untuk menjalankan amanah menuju medan tempur di pulau seberang. Merintis hidup di pulau seberang yang masih asing dan tanpa sanak saudara diterantauan memang berat. Bahkan sangat sangat dan suangat buerat. Harga kontrakan rumah yang diluar nalar dan perkiraan, harga makan satu porsi di pulau seberang yang bisa digunakan untuk makan satu hari bersama istri saat di kampung halaman dan berbagai macam hal baru lainnya. Alhamdulillah...., dalam medan juang saya tidak sendiri, setidaknya ada teman teman senasib sepenanggungan. Di sini kami saling berbagi, saling menguatkan dan saling memberi motifasi. Pada awal-awal masa di pulau seberang, home sick sangat terasa. Apa lagi saat menghubungi keluarga di kampung halaman, kerinduan itu semakin menguat dan sangat kuat.... . teringat pesan kakak pertama, biar tidak kangen rumah, jangan terlalu sering menghubungi rumah. Apa iya bisa....? L

Mudik Pertama

Menjalani hidup di pulau seberang sudah kujalani kurang lebih 4 bulan. Pagi hari saat di kantor dapat info dari seorang sahabat yang sama sama bekerja di instansi serupa di pulau berbeda, bahwa akan ada diklat wajib bagi karyawan baru yang akan dilaksanakan dalam waktu depat. Kami bersama teman-teman satu instansi mencoba menghubungi pihak panitia untuk bisa mengikuti diklat tersebut. Dan oleh pihak panitia dikasih lampu hijau. Tanggal 22 Agustus 2008 saya Berangkat diklat sekaligus kesempatan pulang kampung pertama kalinya sampai lebaran isul Fitri.

Serasa menemukan kembali dunia yang pernah hilang...... sebentar lagi akan terobati rasa rindu ini, Allah akan segera mempertemukan ku dengan keluarga besar dan Istriqu tercinta (yang dengan kesabarannya selalu menunggu kedatangannku).

Berpisah dengan keluarga ke 2 kalinya, Berangkat lagi Ke Pulau Seberang

Termasuk waktu pulang kampung ku termasuk yang paling lama dibandingkan dengan teman-teman satu angkatan yang lain. Karena sekalian ada 2 diklat sekaligus yang wajib saya ikuti, sehingga lebih dari tiga bulan saya meninggalkan pulau seberang. Beberapa hari sebelum saya berangkat, kondisi Bunda sebenarnya kurang sehat. Keluhan yang dirasakan sekitar lambung. Kami memperkitakan hanya sebatas sakit perut biasa yang sering dirasakan orang kebanyakan. Bunda termasuk tipe orang yang kurang bisa begitu terbuka untuk menceritakan rasa sakit yang dirasakannya. Dah karena hal tersebut, penanganan medis kadang tidak tepat dan merimplikasi kepada kondisi penyakit yang semakin parah. Dalam kondisi sakit, Ibunda mencoba untuk tetap tegar dan kuat. Meskipun sambil menahan rasa sakit, ibunda tetap bersikukuh untuk mengantarkan saya ke bandara. Dan pertemuan di bandara dengan Ibunda tercinta merupakan kesempatan terakhir aku menyaksikan Ibu sangat terlihat tegar dan kuat. Karena Seminggu setelah saya berada di pulau seberang lagi, ibunda harus menjalani rawat Inap di Rumah sakit. Terasa berat rasa ini, saat Ibunda terbaring di Rumah Sakit, diri ini tidak bisa mendampinginya, hanya sebatas do’a yang terpanjatkan untuk kebaikan Ibunda....*

Salah satu hikmah yang bisa saya petik dengan keberanianku mengambil keputusan untuk sementara waktu berpisah dengan Istri, Istri tercinta bisa menggantikan saya untuk selalu mendampingi bunda di rumah sakit. Bahkan, saat lebaran Idul Adha, Ibunda merayakannya di Rumah sakit bersama Istriqu. Saya bersyukur.... Allah memberikanqu karunia yang sangat besar. Seorang Istri yang sangat menyangi Ibunda dengan sepenuh hati. Hampir satu bulan Bunda rawat Inap di Rumah Sakit. Melihat kondisi bunda semakin membaik dan atas izin dari dokter, bunda diizinkan rawat jalan*

Saya di sini selalu berusaha memantau perkembangan kesehatan Bunda. Berbulan bulan saya dalam kondisi cemas dan tidak tenang. Kadang muncul ketakutan sudah tidak bisa bertemu dengan Bunda lagi. Apa lagi awal bulan Maret, kondisi kesehatan Bunda sempat menurun dan harus menjalani rawat inap kembali. Bahkan 8 hari menjalani perawatan intensif di rang ICU. Mulai saat itu perasaan ini selalu gelisah. Ingin pulang segera tapi kondisi cidera finansial sangat tidak mengizinkan saya untuk segera pulang. Dalam kondis kegalauan, hanya do’a yang mampu kupanjatkan dan kupinta kepada Nya “semoga saya diberikan kemudahan jalan untuk bisa dipertemukan lagi dengan keluarga dan Ibunda diberikan ketetapan yang terbaik oleh Nya” Dengan penuh keyakinan pasti Allah akan memberikan kemudahan jalan bagi hamba-hambaNya. Meskipun Rezeki itu tidak diberikan langsung oleh Allah kepadaku, namun, rezeki Allah diberikan untukku.*

Pulang kampung lagi untuk meng ikhlaskan kepergian Bunda

Sehingga tanggal 1 April 2009 saya bisa terbang kembali ke kampung halaman untuk mendampingi Ibunda. Memanjatkan do’a dan berbuat yang terbaik untuknya. Saat perjalanan purang, diliputi rasa khawatir, ketakutan bahwa Allah sudah tidak mengizinkan lagi aku bertemu dengan Ibunda. Apalagi pesawat sempat delay beberapa jam di bandara transit. Pada hari yang sama pula, kakak ke-tiga –yang sedang menuntut ilmu di Brishbane, pulang juga ke kampung halaman. Sedangkan kakakke empat yang sedang meniti karir di Palembang sudah tiba si kampung halaman satu hari lebih awal dariku. di Alhamdulillah, Allah masih mengizinkan saya bersama ke lima kakak saya dan keluarga besar Anas untuk mendampingi bunda selama 13 hari, sebelum Allah menjemputnya.*

Perempuan tangguh itu akhirnya dikehendaki oleh Allah untuk segera menhadap NYA dalam usia ke 63. (sama seperti masa Rasululoh saat dipanggil oleh-NYA). Kami, anak-anaknya sudah melakukan usaha sekuat ternaga dan secara optimal menguayakan kesembuhan Bunda, tapi Allah menentukan jalan yang lain. Dan Do’a kami, semoga Ibunda Tercinta meninggal dalam keadaan Khusnul Khotimah. Kami sebagai generasi penerus Keluarga besar Anas, anak anaknya memiliki kewajiban untuk meneruskan cita cita mulia Ayahanda Anas Ngabid dan Ibunda Sarilah. Cita cita yang sederhana namun memberikan manfaat besar bagi sesama. “Berkarya yang terbaik, melakukan upaya tanpa pamrih serta Selalu berbagi dengan sesama dimanapun dan kapanpun kita berada”.

Saya teringat betapa basar jiwa sosial Bunda. Saat ada acara sosial, Bunda merasa sangat tidak nyaman jika tidak terlibat didalamnya. Membezuk orang sakit, mengahdiri undangan, mendatangi acara kerjabaktiBahkan, saat sakit sekalipun, Bunda tetap berupaya bisa berkontribusi. Itulah gambaran kesederhanaan dan ketangguhan Alharhum Bunda.

LIKA LIKU PERJALANAN LDL

Menjalani Long Distance Love, hubungan cinta jarak jauh bukanlah perkara yang mudah. Kita harus bisa menata hati, menata diri, mengatur ritme komunikasi, sehingga komunikasi yang dilakukan dengan pasangan tidak terasa hambar tanpa makna. Yang paling berat saat muncul masalah karena adanya kesenjangan komunikasi atau saat sinyal seluler tidak bersahabat. Tidak jarang, inginnya membangun kemesraan, justru yang terjadi kondisi yang memanas. Namun satu kunci yang selalu coba ku pegang. Berusaha memahami pasangan dan berajar ber empati apa yang sedang dialami oleh pasangan di belahan bumi lain.

Menjalani LDL, mengingatkan kita untuk selalu bisa mensyukuri nikmatnya serpihan serpihan waktu dalam kebersamaan. Saat-saat pertemuan merukapan moment yang selalu mendebarkan dan selalu dinantikan saat harus mulai berpisah –sementara waktu- kembali. Meskipun sampai saat ini masih menjadi pelaku LDL, suatu saat nanti kami ingin membangun keluarga yang utuh, keluarga dalam kebersamaan menghadapi cobaan dalam suka maupun duka. Dan Prinsip Kami, selalu berusaha melakukan upaya yang terbaik dan bisa bermanfaat bagi sesama dimana kami masing masing berada saat ini.

“pasti akan Ada hikmah yang dapat kita petik dari setiap Peristiwa”