Kamis, 29 Januari 2009

----"Nama adalah Do’a"-----.

Yashfa in the FRAME

Do’a yang sungguh mulia yang diberikan orang tua kepada buah hatinya, merupakan tanda awal wujud kecintaan orang tua terhadap JUNIOR barunya dan dari nama itu tersimpan harapan yang sungguh mulia. Saya –contohnya- dikasih nama yang sungguh indah maknanya oleh orang tua tercintaku (Bp. Anas Ngabid (alm) dan Ibu Sarilah). Muhibbuddin Danan Jaya. Jika saya mencoba melakukan penafsiran, Muhibbuddin diartikan sebagai orang yang memiliki kecintaan terhadap agama, Dien. Dan sejak kecil saya sudah mengikrarkan Syahadat, berarti saya diharapkan meliki kecintaan terhadap Agama Islam. Sedangkan Danan Jaya diambilkan dari nama seorang tokoh pewayangan Janoko. Secara keseluruhan jia ditafsirkan, do’a orangtua saya

“semoga saya menjadi anak yang memiliki kecintaan yang tulus terhadap agamanya, memiliki tekad dan kemauan kuat untuk membela Dien-Nya serta memiliki sifat mulia seperti yang dimiliki oleh Janoko” ;-)

>>

Dan tanggal 27 JANUARI kemaren jam 12:33 WIB -14:33 WIT- datang pesan singkat dari kakak ke-5 ku, “Bismillah, akhirnya fix nama ‘Yashfa Jauhari’. Do’akan JUNIOR bisa memberikan sesuatu tanpa harapan imbalan apapun”dan saat itu juga secara resmi ponakan baruku, si Jabangbayi menyandang do’a yang sungguh luar biasa

Semoga menjadi Anak yang selalu bisa mensucikan jiwanya seperti Batu Mulia”.

Do’a kami, Keluarga besar Lor-X (baca: Lo Kali.red), Syahida Family, bani Parto Taruno selalu menyertai kebahagiaan kalian.

BAPAK AND IBUNE YASHFA

NB: Saat saya up-load tulisanku, keluarga JOGJA (mas Agus Family, Mas Taqin Family and Ibu' Sarilah baru di malang, nengok Ponakan, adek danCucu dan Terbaru.

Selasa, 27 Januari 2009

ANTRIAN LAGI, MEMINTA-MINTA LAGI, REBUTAN LAGI “Problem Kemanusiaan di Bangsa Tercinta”

Belum hilang dari memori kesadaran kita kejadian pembagian zakat di Situbondo Jawa Timur pada akhir bulan Ramadhan 1429 H yang lalu yang memakan korban jiwa yang tidak sedikit dan ironosnya korban mayoritas wanita dan sudah berumur.

Sebelum kejadian insiden pembagian zakat di Situbondo Jawa Timur sebenarnya di negara kita sudah terkenal dengan bangsa “ANTRI”. Antri Minyak, antri sembako, antri BBM dan sederetan antrian lainnya dan sebagai peserta antrian didominasi kaum muztadafin.
Jika kita amati, kejadian antri sebagian besar dipicu oleh kemiskinan. Saat ada kesempatan memperoleh sesuatu yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, lebih-lebih dengan harga yang murah bahkan “gratisan” hehehe.....
Berita pagi ini cukup mencengangkan. Temanya tentang antrian lagi. Seorang warga keturunan Tionghoa bertepatan dengan tahun baru Imlek membagikan uang angpao kepada warga di sekitarnya. Tak ayal, terjadi antrian dan aksi desak-desakan warga karena ketakutan tidak mendapatkan bagian uang angpau. Kejadian pembagian uang angpau tidak hanya terjadi di satu tempat. Dalam satu pemberitaan dilaporkan setidaknya terjadi di dua tempat, di Sulawesi Barat dan Jombang Jawa Timur. Aksi desak-desakan mengakibatkan beberapa anak terjatuh dan terinjak-injak oleh teman-temannya.
Budaya Antri memang bagus, dan akan lebih terasa indah jika dibarengi dengan etika dan kearifan antar sesama.

Semoga Bangsa kita segera bisa kelur dari pusaran permasalahan Kemanusiaan


WELCOME IN THE WORD MY “NEW” NEPHEW

Siang kemaren (tulisan ini saya buat tanggal 23, tapi baru sempat saya up-load sekarang), pukul 14:15 WIT aku dapat SMS “we must change the strategy a prepare another weapons. Pray for me”, , dan tertanda waktu 12:15 22/1/09 waktu yang muncul di layar HP ku, iya karena pesan itu dikirim dari Malang dengan menggunakan poerator yang berbeda dengan yang saya gunakan. Di layar terbaca yang mengirimkan “NurudinNgalam”, kakak ke-5 ku, pas satu tingkat diatasku dari 6 bersaudara.
Tidak berselang lama masuk lagi sms yang dikirim dari Jogja
”Mhn doa, Bulik Ifa Sbentar lg akan di cesar, Mudah2an lancar” 22/01/09 13:15 AttaQ. Istriku-pun mem Forward SMS yang sama yang dikirimkan oleh kakak ke-3.
Dan tepat pukul 16 lebih, saat mau pulang kantor ada telepon masuk dari kakak ke5 mengabarkan berita gembira itu.
“Alhamdulillah le..., lahir Lanang”

Dan saat ini tinggal aku –dan pastinya dengan kerjasama bersama Isti “tercinta” ku- yang belum berkesempatan menghadirkan cucu kepada Ibu Hj Sarilah, Nenek dari cucu-cunya....


Selamat Kang NURUDIN JAUHARI dan Mbak Ayu IVA FITRIA, semoga menjadi anak yang soleh dan menjadi Qurotaa’yun bagi keluarga besar dan Umat.
Sekali lagi Selamat dan yang pasti saat lebaran tiba, waktu berkumpulnya keluarga akan terasa lebih meriah lagi Rumah Lor-X (baca: Lor Kali).


Nb:
Saat ini Ibu Hj. SARILAH ANAS , -ibu tercinta KAMI- sudah dikaruniai 3 cucu (laki-laki semua) dari Kakak ke-1, 1cucu (perempuan) dari Kakak ke-2, 2 cucu (laki-laki semua) dari Kakak ke-3, satu cucu laki-laki dari kakak ke-4 dan Satu cucu Lai-laki lagi dari kakak ke-5. Kita juga sedang menantikan kelahiran cucu ke 9 dari kakak ke-4.
Dari enam anak (laki-laki semua) sudah mempersembahkan 7 cucu laki-laki dan 1 cucu perempuan. Luar Biasa Bukan.....;-)

Rabu, 21 Januari 2009

GUNUNGKIDUL (Paradise on South Montain)

Kawan, jika mengdengar kata Gunungkidul (Beberapa media yang saya baca, banyak yang menuliskannya secara terpisah: Gunung Kidul, tapi saya lebih suka menulisknnya tersambung, karena kaidah yang saya yakini, itu yang benar ). Apa yang terbesit di pikiran anda....?

Sebagian besar orang yang ketemu dengan saya -dan orang itu sama sekali belum pernah menjajakkan kaki di Gunungkidul paradise- jawaban yang dilontarkan cenderung menganggap miring daerah kelahiranku. “Gunungkidul daerah gersang, Gunungkidul Kekeringan, Gunungkidul miskin, Gunungkidul....., Gunungkidul..... dan Gunungkidul....” saya mahfum dan maklum mengapa orang memberikan penilaian terhadap gunungkidul seperti itu. Hal ini tidak terlepas dari peran media massa yang memunculkan berita Gunungkidul yang dilihat dari sisi minus-nya.

Itu dulu... cerita Gunungkidul yang kering, gersang, kelaparang, miskin.... dan saat ini Gunungkidul sudah berbeda, memiliki kemauan untu bangun dan bangkit dari keterpurukan sejarah. Seiring pengembangan hutan rakyat dikawasan tandus dan gersang, saat ini Gunungkidul sudah lebih asri dan “ijo royo-royo”. Kesadaran dan kearifan masyarakat akan pentingnya upaya konservasi sudah mulai dirasa manfaatnya. Alam terasa lebih bersahabat dan yang pasti tingkat ekonomi masyarakat terangkat dari penjualan kayu rakyat.

Di sisi lain, pesisir Gunungkidul menyimpan keelokan alam yang menawan. Sepanjang pesisir pantai dari ujung barat Pantai **** sampai ujung timur pantai sadeng. Pesona alam ini terasa tak ada habisnya untuk dinikmati. Di ujung timur Gunungkidul, kecamatan Rongkop kita juga bisa melakukan penelusuran sejarah sungai bengawan solo purba. Andapun bisa mengunjungi www.pesonagunungkidul.com untuk melihat sekilas keelokan alam nya.


“Jika ingin hidup berkelanjutan, jangan pernah melupakan alam.....”